Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, May 20, 2011

Kyai & Pemuda Angkuh

Ada seorang pemuda yang lama menjalani pendidikan di luar negeri namun tidak pernah belajar agama Islam, kini kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia diminta kedua orang tuanya untuk belajar agama Islam, namun ia memberi syarat agar dicarikan guru agama yang bisa menjawab 3 pertanyaan yang selama ini mengganjal dihatinya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kyai dari pinggiran kota.

Pemuda
: “Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanya an saya?“
Kyai : “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.“
Pemuda : “Anda yakin? Sedangkan Profesor di Amerika dan banyak orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kyai : “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.“
Pemuda : “Saya ada 3 pertanyaan :
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya !
2. Kalau memang benar ada takdir, tunjukkan takdir itu pada saya !
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?“

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit) “Hei ! Kenapa anda marah kepada saya?“
Kyai : “Saya tidak marah... Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.“
Pemuda : “Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.“
Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?“
Pemuda : “Tentu saja saya merasakan sakit.“
Kyai : “Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?“
Pemuda : “Ya!“
Kyai : “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!“
Pemuda : “Saya tidak bisa.“
Kyai : “Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya."
Kyai : “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?“
Pemuda : “Tidak.
Kyai : “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?“
Pemuda : “Tidak.“
Kyai : “Itulah yang dinamakan takdir.“
Kiyai : “Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?“
Pemuda : ”Kulit.“
Kyai : ”Terbuat dari apa pipi anda?“
Pemuda : ”Kulit.“
Kyai : ”Bagaimana rasanya tamparan saya?“
Pemuda : ”Sakit.“
Kyai : ”Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan. 


Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang ditempatkan bersama syaitan di neraka...“
Pemuda itu langsung tertunduk dan memeluk kyai tersebut sambil memohonnya untuk mengajarkan Islam lebih banyak lagi.



sumber

Thursday, April 14, 2011

Kisah seorang istri yang mengampuni dan memberi maaf untuk suaminya..

Kisah yang melatarbelakangi lagu Tie A Yellow Ribbon Round The Old Oak Tree. Lagunya memang benar ada dan silakan kalau sahabat hendak mencoba dengarkan.

Pada kesempatan ini kita hanya hendak mengambil hikmah dari kisah (yang konon menjadi latar belakang) lagu ini, sebagai ilustrasi yang memudahkan kita belajar untuk memiliki pribadi yang agung. Salah satu cirinya adalah pribadi yang pandai memaafkan. Berikut kisah yang sudah sangat populer beredar di internet .

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu bergegas naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. **ks, judi, mabuk-mabukan, dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Naas, suatu saat dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukumnya tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya.

Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis,

"Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku, namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan?”

“Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggumu dan anak-anak seumur hidupku."

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau jika istrinya membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya?

Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia betul betul gugup. Di sampingnya ada yang memperhatikan tingkah dia. "kamu kenapa? kelihatannya kamu begitu tegang." kata seorang pria yang duduk di sampingnya. Spontan ia menoleh,dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia lalu menceritakan kisahnya sejak ia menikah dan saat ia memperlakukan istri dan anaknya.


Seisi bis terharu mendengar ceritanya. Beberapa penumpang bus bahkan meminta sopir bus untuk berjalan perlahan-lahan. “Pak Sopir, Tolong pas lewat White Oak jalannya pelan-pelan saja. Kita mesti lihat apa yang akan terjadi…” Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak, dan para penumpang pun seakan ikut tidak berkedip untuk menyaksikan hal itu. Ia tak berani mengangkat kepalanya, mukanya ditutupi dengan kedua tanganya karena ia begitu terasa tegang. Keringat dingin mengucur deras, bajunya pun terlihat basah.


"Lihat....disana banyak kain kuning yang menutupi setiap pohon." seru seorang penumpang. Seketika pria itu langsung melihat yang di tunjukkan oleh seorang penumpang. Matanya berkaca kaca, dan tanpa terasa air matanya mengalir

Dia tak melihat sehelai pita kuning...
Tidak ada sehelai pita kuning....
Tiada sehelai......
Melainkan ada 100 lebih helai pita-pita kuning bergantungan di pohon beringin itu......pohon itu seakan dipenuhi pita kuning...!!!!!!!!!!!!

Ketika turun di halte, ternyata seluruh keluarga besar istrinya telah menunggu di pohon beringin itu dengan anaknya. Melihat ia di sambut dengan istri dan anaknya serta keluarga besar istrinya, hatinya makin tak kuasa tuk menahan haru. Ia lalu berjalan menghampiri mereka. Anaknya pun berlari sambil memanggil ayah dan ia pun memeluk ayahnya. Istrinya menyusul dan tuk menjemput suaminya. Ia bisa lega hatinya karena istrinya bukan hanya mengampuni tetapi juga mau memberikan maaf untuknya.

Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Kemudian lahir lagu "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree". Lagu ini ditulis oleh Irwin Levine dan L. Russell Brown. Mencapai nomor satu di Amerika Serikat dan lagu Inggris selama empat minggu pada bulan April 1973 dan nomor satu di tangga lagu Australia selama tujuh minggu dari Mei-Juli 1973.
dicomot dari Sumber aslinya :)

Thursday, December 23, 2010

Email Misterius ♦ [wajib baca buat para penggila kerja] ☻

Richa membuka email pribadinya dan ia mendapat kiriman email baru dari seseorang yang tak dikenalnya.
Isinya sebagai berikut :
-

Hai Richa,
Saya melihatmu setiap malam duduk di kantor sampai larut malam. Apakah kamu tak memiliki banyak teman? Apakah kamu tak ingin mengobrol-ngobrol dengan sahabatmu ? Kamu jangan terlalu malam kerja di kantor! Ini adalah nasehat dari lubuk hatiku.
Terima kasih,
Rahul Mehra.
-
Setelah membaca, Richa sangat marah kepada pengirimnya. Ia segera menghapus email tersebut sambil berkata dalam hatinya: “Siapakah orang ini yang memberiku nasihat ?” Lalu Richa kembali bekerja.
Setelah kejadian malam itu, setiap malam, Rahul, si pengirim email misterius, tetap mengirim email kepada Richa. Namun Richa segera menghapusnya tanpa dibaca terlebih dahulu isinya. Sampai pada suatu malam ia membaca “subyek” email yang dikirim oleh Rahul menarik perhatiannya. Richa kemudian membuka email tersebut dan membacanya.
Subyeknya bertuliskan “Hai Cantik”. Isinya sebagai berikut :
-
Hai Cantik,
Hari ini kamu kelihatan cantik sekali dengan gaun merahmu. Saya tahu bahwa setelah kamu menerima emailku yang pertama, kamu tidak pernah lagi membaca emailku yang kukirim kepadamu, karena kamu tidak suka akan nasehatku! Jadi hari ini aku tak akan memberimu nasehat, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku jatuh cinta padamu ! Tahukah kamu bahwa kamu itu cantik dan jika kamu peduli, maka banyak laki-laki akan jatuh cinta padamu !
Aku yakin pada suatu saat kamu akan jatuh cinta padaku, dan kita akan keluar kantor, pergi berpacaran.
Oh ya, sebelum aku akhiri email ini, aku harus mengatakan padamu bahwa sesuatu yang indah itu adalah senyuman.
Jaga dirimu sayang.
Cintamu,
Rahul Mehra.
-
Setelah membaca email tersebut, Richa terkejut sekali. Seseorang yang tak pernah ia temui, tak pernah ia lihat, tak pernah berbicara kepadanya, berani-beraninya mengatakan jatuh cinta kepada dirinya ! Timbul pertanyaan pada diri Richa bagaimana orang misterius itu mendapatkan identitas dirinya ? Dimanakah orang itu bertemu dengan dirinya ? Banyak pertanyaan lagi yang timbul dibenak Richa mengenai hal ini. Akhirnya Richa ingin memberi teguran kepada si pengirim email dan membalasnya.
-
Hai Rahul,
Saya tak ingin merusak karir anda, akan tetapi saya akan melaporkan anda kepada polisi jika anda tidak menghentikan mengirim email kepada saya.
Terima kasih dan salam,
Richa Jain.
-
Setelah Richa mengirim email teguran, kiriman email dari Rahul berhenti. Richa berpikir, bahwa Rahul akhirnya ketakutan dan tak berani mengirim email lagi kepadanya. Setelah beberapa malam berlalu, suatu malam Richa beristirahat di kursi kantornya dan memejamkan matanya. Ketika ia membuka matanya ia melihat email Rahul masuk ke email pribadinya. Richa penasaran dan kemudian membaca isinya :
-
Hai Cantik,
Apakah kamu membayangkan diriku sewaktu kamu memejamkan matamu ? Maaf kalau aku tak mengirim email kepadamu dalam beberapa hari ini. Aku sedikit sibuk. Aku yakin, pasti kamu merindukan diriku …..
Sebelum aku lupa, ada satu lagi yang akan kukatakan padamu, aku tidak takut pada polisi ! Karena polisi tak dapat menghentikan cintaku padamu …..!
Cintamu,
Rahul Mehra
-
Richa menyibak-nyibak rambutnya dan kemudian meletakkannya disamping telinganya. Pada saat itu pula email yang lain datang dari Rahul.
-
Hai Cantik,
Stop bermain-main dengan rambutmu dan tinggalkan kantormu, ini sudah larut malam !
Love,
Rahul Mehra.
-
Richa terkejut sekali bagaimana si pengirim email ini bisa mengetahui apa yang sedang ia perbuat di kantor. Ia kemudian bangkit dari kursinya dan mencari-cari apakah ada orang lain di lantai ruangan kantornya ? Namun ia tak menemukan siapapun, hanya bilik-bilik kosong yang ia temui. Kemudian Richa berniat meninggalkan kantornya. Sebelum sempat meninggalkan kantornya, ia melihat kiriman email baru dari Rahul. Isinya :
-
Hai Richa,
Engkau mencariku ? Rupanya kau mulai jatuh cinta padaku ….. !
Love,
Rahul Mehra.
-
Richa kembali terkejut bukan kepalang dan sangat ketakutan ! Ia segera mematikan komputernya dan lari keluar kantornya. Dalam beberapa hari berikutnya ia tak berniat sedikitpun untuk membuka email yang dikirim oleh Rahul. Pada suatu malam, email dengan subyek “Jangan takut padaku” masuk ke email Richa. Semula Richa tak ingin membacanya, namun akhirnya ia penasaran ingin tahu apa isi emailnya kali ini. Isinya :
-
Hai Richa,
“Jangan takut padaku ! Aku bisa mengatakan demikian karena aku melihatmu berlari keluar kantormu setelah kamu membaca emailku terakhir yang lalu. Aku tahu, beberapa menit kemudian kamu kembali sehabis kamu minum kopi. Kamu bertanya-tanya bagaimana aku tahu ? Aku tahu karena aku bisa merasakanmu di sekitarku.
Aku sangat dekat denganmu ! Aku duduk di sampingmu ! Aku selalu menunggumu setiap malam kapan kamu memiliki perasaan yang sama denganku ……
Yang selalu mencintaimu,
Rahul Mehra.
-
Richa mulai berpikir apakah Rahul sungguh-sungguh mencintainya ? Apakah yang ia katakan tentang cintanya adalah benar ? Bagaimana bisa ia mengatakan apa yang Richa lakukan dan apa yang tidak ? Richa berpikir dan berkata dalam hatinya: “Biarlah aku mencoba dan melihatnya apakah Rahul sungguh-sungguh mencintaiku atau tidak ?” Sejak malam itu Richa membalas email-email yang dikirim oleh Rahul kepadanya.
-
Isi email berikutnya dari Rahul :
Hai Richa,
Apakah kamu merasa terganggu bila aku memanggilmu Cantik ?
Love you,
Rahul Mehra.
–
Jawaban Richa :
Ya Rahul. Aku tak suka kata “Cantik” kau sebutkan!
Kamu cukup menulis Richa saja, nama kesayanganku !
Terima kasih dan salam,
Richa Jain.
-
Jawaban Rahul :
Richa, ketika saat itu aku merasa berbahagia dan bergairah, sehingga aku memanggilmu dengan nama Cantik ! Besok kamu akan menerima sertifikat yang membanggakan dirimu.
Love you,
Rahul Mehra.
-
Richa kembali terkejut bagaimana Rahul bisa mengetahui soal sertikat yang akan ia terima. Padahal ia tak pernah menceriterakan kepadanya !
-
Balasan Richa :
Rahul, siapa yang memberitahumu tentang diriku ? Aku tak pernah memberitahumu mengenai sertifikat, bagaimana kamu tahu ?
Terima kasih dan salam,
Richa Jain.
-
Rahul balik membalas :
Aku tahu, karena aku berada di depanmu ! Dapatkah kau melihatku ? Dapatkah kamu merasakan diriku dekat dengan dirimu ? Aku juga mengetahui bahwa 3 hari lagi kamu akan memperoleh kenaikan jabatan yang tidak kamu ketahui kecuali Personal Manajer mu. Apakah kamu mengira bahwa Personal Manajer akan menceritakan hal ini kepadaku ?
Love,
Raul Mehra.
-
Ia tahu bahwa tidak mungkin Personal Manajer akan memberi tahu kepada Rahul tentang kesemuanya itu, tetapi bagaimana Rahul mengetahui begitu banyak tentang dirinya ? Richa tak mampu menjawab misteri ini. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui dan berbicara dengan Personal Manager, Rohan, untuk menceriterakan kesemua misteri ini.
Esoknya, Richa menemui Personal Manajer, Rohan, dan berkata :
“Bapak, saya ingin menanyakan kepada bapak sesuatu yang mengganggu saya.”
Rohan : “Silahkan Richa. Apakah ada masalah serius ?”
Richa : “Tidak. Saya hanya ingin mengetahui seseorang yang bernama Rahul Mehra, apakah bapak mengenalnya ?”
Rohan tampak terkejut ketika mendengar nama Rahul Mehra.
Rohan : “Mengapa kamu menanyakan nama tersebut ? Apakah ada orang yang menceritakan kepadamu ?”
Richa : “Tak seorangpun yang mengatakan kepada saya tentang Rahul. Beberapa hari yang lalu Rahul mulai mengirim email kepada saya. Awal-awalnya saya tak memperdulikannya, namun kemudian setelah ia memberi tahu hal-hal yang detail tentang diri saya, mulailah saya memperhatikannya. Bahkan ia mengetahui hari kenaikan jabatan saya yang akan datang.”
Rohan : “Apakah kamu yakin bahwa kamu mendapat email itu itu dari Rahul Mehra ?
Richa : “Ya saya yakin betul ! Tetapi mengapa bapak kelihatan terkejut sekali ketika saya menyebutkan nama Rahul Mehra ?”
Rohan : “Ya saya terkejut karena Rahul Mehra telah meninggal dunia 2 tahun yang lalu ! Ia menduduki kursi yang sama dimana kamu duduk bekerja …. ! Bagaimana orang sudah mati bisa mengirim email kepadamu.”
Richa shok berat mendengarnya. Ia tak tahu bagaimana mananggapi hal ini.
Rohan : Kalau kamu tidak percaya, coba kamu temukan nomor telepon Rahul di “direktori komputer” yang menyimpan data karyawan kantor kita. Lalu coba kamu telepon ke rumahnya dan tanyakan tentang Rahul, pasti orang rumah akan menerangkan soal kematian Rahul. Jika kamu menceriterakan kepada mereka bahwa kamu menerima email dari Rahul, pasti kamu dianggap “stress berat” yang menimbulkan halusinasi.
Richa : “Saya tidak berhalusinasi sedikitpun Pak ! Rahul benar-benar mengirim email kepada saya ! Saya akan tunjukkan ke bapak kotak email saya yang berisi kiriman email-email dari Rahul !”
Rohan : “Oke Richa, saya percaya padamu, namun sebaiknya kamu perlu beristirahat dan pulanglah ke rumah !”
Richa tetap “shok” karena mendapat informasi tentang kematian Rahul dari Rohan. Richa berusaha mencari data Rahul Mehra di “direktori komputer”, namun selalu ditolak berkali-kali oleh mesin komputer dengan munculnya tulisan “No matches found for the given search criteria” (tak ada yang sesuai dengan kreteria yang dicari).
Richa tak yakin bahwa ada seseorang yang membobol (hack) sistem komputer kantornya dan mengirim email kepadanya dengan identitas email Rahul yang tak ada di direktori. Kemudian Richa “mem-forward” email-amail dari Rahul kepada Personal Manajer, Rohan, untuk membuktikan bahwa ia tidak berhalusinasi.
Ketika Rohan membaca email-email Rahul yang dikirim oleh Richan, Rohan sangat terkejut, kemudian menghampiri meja Richa.
Rohan : “Saya rasa pasti ada seseorang yang membobol data Rahul di direktori komputer, dan kemudian menggunakan emailnya untuk mengirim email ke kamu, Richa !”
Richa : Tapi Pak, saya telah mencek berulang-ulang data Rahul di direktori, namun tak ditemukan sama sekali !”
Rohan : “Coba panggilkan pegawai kita ahli komputer dan suruh dia memeriksanya !”
Richa memanggil pegawai ahli komputer. Mereka bersama-sama memeriksa sistem komputer Richa dan melihat email yang dikirim oleh Rahul Mehra. Ternyata email Rahul dikirim dari komputer yang sama yang di pakai oleh Richa ! Sungguh aneh, bagaimana email Rahul bisa dikirim melalui sistem komputer Richa dan dari orang tak tercatat identitasnya ?
Tak ada virus atau gangguan lainnya yang ditemukan pada sistem komputer Richa. Anti virus yang dipasang pada komputer sangat canggih dan keluaran terbaru. Hampir seharian waktu dihabiskan untuk memecahkan teka-teki namun tanpa hasil, bagaimana bisa Richa menerima email dari Rahul tersebut. Richa sangat lelah hari itu dan memutuskan pulang lebih awal dari biasanya.
Esoknya ketika Richa masuk kantor, ia melihat kiriman email baru berasal dari Rahul Mehra ! Ia bimbang apakah ia akan menghapus atau membacanya ? Ia merasa takut untuk membukanya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk membacanya. Isi emailnya sebagai berikut :
-
Hai Richa,
Aku akan senang melihatmu jika malam hari ini kamu pulang lebih awal. Aku tahu bahwa Rohan telah memberi tahu kepadamu soal kematianku. Aku adalah seorang “pecandu kerja” (workaholic) seperti dirimu ! Aku sering duduk bekerja di kantor sampai jauh larut malam, walaupun pekerja lainnya telah pulang. Waktuku banyak kuhabiskan di kantor. Aku tak memiliki teman dekat, tak ada kehidupan sosial. Walaupun libur di akhir pekan, aku tetap masuk ke kantor.
Semasa hidupku aku kehilangan segala hal yang menyenangkan. Bahkan juga sewaktu aku mati ketika aku sedang bekerja keras di kantor ! Jasadku ditemukan oleh penjaga malam kantor. Aku mengalami stres berat akibat terlalu larut bekerja, sehingga akhirnya aku tak kuat lagi menanggungnya pada malam itu. Aku tak memperdulikan semua penyakit yang kuderita, sehingga pada malam hari itu (jam 13.10) akibat kesehatanku yang memburuk akhirnya aku meninggal dunia !
Kini aku sungguh-sungguh mencintaimu Richa. Aku senang jika engkau mulai malam ini pulang lebih awal sehingga kesehatanmu terjaga, namun tentu saja aku akan berbahagia jika engkau mengalami kematian untuk bertemu dengan diriku …….
Love you always.
Yang menanti kematianmu,
Rahul Mehra.

sumber : klik